Ini Alasannya Kenapa Musik Dangdut Sering Dicap Sebagai Musik Kelas Bawah

oleh Laila Prasetia
13:28 PM on Jan 17, 2017

Mendengar kata dangdut, yang ada di benak kita mungkin Ayu Tingting atau bahkan musiknya para sopir truk pantura. Genre yang satu ini memang akrab banget di telinga rakyat menengah ke bawah. Saking akrabnya, kita bisa temukan dangdut di pasar, di acara nikahan, hingga kampanye-kampanye wakil rakyat yang sedang ingin mengambil hati rakyat kecil.

Tapi, buat beberapa lapisan orang Indonesia yang kekinian, mendengar musik dangdut mungkin bikin jengah dan berkata “Duh kok dangdut sih?” atau “Ih, lagu apa sih ini”. Padahal sebagai warga Indonesia kita harusnya bangga dong dengan musik dangdut karena merupakan musik khas negara kita. Banyak warga negara asing yang jatuh cinta dengan musik dangdut, bahkan kamu bisa menemukan beberapa dari mereka yang menyanyikan lagu dangdut di Youtube. Lalu, bagaimana bisa ada orang Indonesia sendiri yang nggak suka musik dangdut? Ini alasannya :

Baca Juga
Bukan Kegembiraan, 4 Lomba Agustusan Ini Justru Berakhir dengan Tragedi
Tak Melulu Miris, Ini Cerita dari Para Veteran yang Akhirnya Diperhatikan oleh Pemerintah

1. Dianggap Musik Kampungan dan Murahan

Sebagian orang Indonesia berpendapat musik dangdut adalah musiknya orang kampung, mayoritas pecintanya tinggal di kampung. Dan salah satu alasan kenapa musik dangdut dianggap murahan, bisa dilihat dari pakaian yang digunakan para penyanyinya.

Dangdut koplo [image source]
Jika kita perhatikan beberapa video klip musik dangdut satu dekade terakhir, busana yang dikenakan para penyanyinya kebanyakan berwarna gonjreng, bling-bling dan minim-minim. Dengan pakaian seperti itu musik dangdut terkesan norak dan jauh dari berkelas. Juga video klip yang kurang mendekati idealis muda-mudi masa kini. Buat anak urban yang kekinian, jelas mereka lebih pilih yang anggun seperti Raisa atau Isyana.

Tapi sekarang ini Ayu Tingting, Cita Citata bahkan Duo Srigala sudah bikin video klip mereka lebih modern dan nggak kalah dengan musik pop. Apakah ini akan mendongkrak citra musik dangdut di mata masyarakat?

2. Sudah Hilang Keasliannya

Pada tahun 1970 – 1980 an di mana bapak ibu kita mungkin masih pacaran, musik dangdut merupakan percampuran antara musik Arab dan tradisional India. Alias masih asli. Rhoma Irama sebagai Raja Dangdut berhasil menyajikan musik dangdut yang enak di telinga dengan lirik yang puitis. Tapi beberapa tahun belakangan ini musik dangdut kehilangan sifat aslinya.

Dangdut era Rhoma Irama mengandung dakwah hingga pelajaran hidup [image source]
Saat ini para produser musik dangdut lebih mementingkan visual dan pasar daripada musik itu sendiri. Bahkan, tak jarang beberapa liriknya mengandung konotasi negatif dan vulgar. Contohnya bisa kamu dengar pada dangdut koplo saat ini yang cenderung menghadirkan penyanyi berpakaian minim dengan menampilkan goyangan-goyangan yang aduhai dan mengundang para kaum Adam untuk menontonnya.

Musik dangdut masa kini dibuat agar lebih mudah diterima pendengarnya dan sebagai hiburan semata. Contohnya dangdut koplo dan dangdut pantura yang musiknya memang ngajak goyang enak asik-asik joss. Sementara di jaman Rhoma Irama, berdangdut juga bisa sambil berdakwah dan memberi motivasi

3. Musiknya Berisik

Umumnya, dangdut dimainkan ketika sedang ada hajatan besar, seperti kampanye atau pesta pernikahan. Kalau waktu kampanye, biasanya para tokoh partai politik mengundang penyanyi dangdut terkenal atau minimal pedangdut ibukota untuk mengisi kampanyenya. Harapannya sih sederhana, memanjakan rakyat dengan harapan banyak yang bakal memilihnya pada pilkada atau pilgub.

Sound system hajatan bisa kedengeran sampai kampung sebelah

Kalau di nikahan, biasanya orkes dangdut kecil-kecilan yang diundang. Lengkap dengan sound system yang segede gambreng hingga tabuhannya bisa terdengar hingga kampung sebelah. Nah, fenomena ini memberi stigma pada dangdut sebagai musik yang heboh dan berisik. Apalagi kalau sudah dangdut koplo dan pantura yang bicara, wah ke mana-mana deh bunyinya.

Lagi-lagi, genre musik sebenarnya soal selera. Masih banyak kok orang-orang atas yang suka dengan dangdut. Sebenarnya tidak semua musik dangdut nggak enak didengar. Mungkin kita bisa mulai dari mendengarkan musik dangdut tahun 70-80 an karangan Cici Paramida atau Ike Nurjanah.

Setelah mendengarkannya, kamu mungkin akan mulai menyukai dangdut secara perlahan. Walaupun kamu masih nggak suka musik dangdut, setidaknya jangan membencinya dan berusaha menghargai karya bangsa Indonesia. Seperti kata lagu Project Pop yang berjudul Dangdut Is The Music of My Country, yang menggambarkan bahwa musik dangdut adalah bagian dari Indonesia.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA