Bripda Taufik, Polisi Jujur Yang Tinggal di Kandang Sapi

oleh Evi Rizana
08:58 AM on Jan 15, 2015

Semua orang bisa menggapai cita – cita mereka menjadi polisi. Tidak peduli anak pejabat, anak PNS, anak petani, hingga anak buruh yang ingin mengabdi untuk negeri.  Sama halnya dengan polisi yang satu ini.

Adalah Bripda Muhammad Taufik Hidayat, polisi muda yang baru lulus Sekolah Polisi Negara akhir tahun 2014 kemarin. Polisi muda yang kerap disapa Bripda Taufik ini berasal dari keluarga kurang mampu yang memiliki cita – cita mulia untuk mengabdi pada negara.

Baca Juga
10 Atlet SEA Games 2017 Asal Indonesia Ini Nggak Cuma Bikin Bangga, tapi juga Cantik Jelita
Fakta Android Oreo, Sistem Operasi Terbaru Keluaran Google dengan 7 Fitur Super Canggih

Berprofesi sebagai polisi tidak membuat Bripda Taufik merasa gengsi dengan kehidupan aslinya. Bahkan, saat dirinya sudah masuk sebagai anggota Polri, dia dan keluarga masih tinggal di sebuah rumah yang merupakan bekas kandang sapi. Simak kisahnya lebih lanjut yuk!

1. Broken home

Bripda Taufik hidup dalam keluarga yang sederhana bersama orang tua serta ketiga adiknya. Begitu juga dengan rumah sederhana yang mereka tempati. Namun sayangnya, orang tua Bripda Taufik, Triyanto dan Martinem bercerai dua tahun yang lalu.

Kisah Haru Bripda Taufik, Polisi Yang Tinggal di Kandang Sapi
Kisah Haru Bripda Taufik, Polisi Yang Tinggal di Kandang Sapi

Dia kemudian memilih untuk tinggal bersama sang ayah beserta ketiga adiknya. Sementara sang ibu bersama dengan suami barunya. Ibu Bripda Taufik menjual rumah mereka dan ingin membeli rumah yang baru. Akan tetapi, uang tersebut tidak cukup membeli rumah baru.

2.  Tinggal di kandang sapi

Tak cukup untuk membeli rumah baru, Bripda Taufik bersama sang ayah serta ketiga adiknya mendapat sumbangan bangunan dari kelompok ternak di kampung mereka di Jongke Tengah, Sleman. Bangunan tersebut merupakan kandang sapi semi permanen yang kemudia dialihfungsikan menjadi tempat tinggal bagi keluarga Bripda Taufik.

Bangunan dengan dinding batako serta rongga besar yang hanya tertutup dengan kain. Tidak ada lemari untuk menyimpan baju. Begitu pula dengan kondisi kasur yang sudah tidak layak untuk digunakan. Ditambah lagi aroma kotoran sapi dari kandang sekitar rumahnya.

3. Tanpa sepengetahuan sang ayah

Sewaktu SMA, Bripda Taufik termasuk siswa yang aktif di dunia organisasi. Dia mengikuti organisasi pramuka dan dari situ pula dia termotivasi untuk menjadi seorang polisi. Dia juga bekerja sebagai staf perpustakaan sekolahnya, SMKN 1 Sayegan. Dan tanpa sepengetahuan ayahnya, Bripda Taufik membulatkan tekad mendaftar menjadi polri.

“Bapak tidak tahu kalau saya mendaftar di kepolisian, saat sidang kelulusan baru saya mengajak bapak saya,” cerita Bripda Taufik.

4.  Jalan kaki sejauh 5 km

Di hari pertamanya dinas, dia mendapatkan hukuman karena datang terlambat. Bukan karena bangun kesiangan melainkan dia harus jalan kaki sejauh 5 kilometer karena tidak punya kendaraan bermotor. Bripda Taufik datang terlambat apel yang seharusnya pukul 06.30 sementara dia baru sampai Polda DIY sekitar pukul 08.00.

Akan tetapi, atasannya tidak percaya jika dia harus jalan kaki. Mereka kemudian mengecek rumah Bripda Taufik. Dan dari sana lah terungkap bahwa rumah Bripda Taufik awalnya adalah bekas kandang sapi.

5. Gaji pertama untuk sang ayah

Mulanya, ayah Bripda Taufik tidak percaya anaknya bisa masuk dalam jejeran kepolisian Yogyakarta. Beliau bahkan meragukan apakah anaknya bisa diterima di kepolisian atau tidak. Beliau juga jika harus disuruh membayar sejumlah uang yang tidak sedikit untuk bisa diterima sementara beliau sendiri hanya pekerja serabutan.

Namun, Bripda Taufik telah mewujudkan bisa menggapai cita – citanya. Dia saat ini sudah bertugas di satuan Sabhara Polda DIY. Dengan hati yang begitu mulia, Bripda Taufik ingin memberikan gaji pertamanya nanti untuk sang ayah.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA