Miris! 7 Bangunan Bersejarah Indonesia Ini Memang Sengaja Dihancurkan

oleh Anas Anas
07:08 AM on Apr 1, 2016

Sebagai sebuah masa penjajahan yang terlama dalam sejarah Bangsa Indonesia, Belanda telah banyak melakukan pembangunan gedung-gedung untuk kepentingannya sendiri. Kini sisa-sisa peninggalaan gedung itu telah menjadi sejarah yang dapat dinikmati oleh siapapun, termasuk bagi para sejarahwan yang hendak melakukan penelitian di Indonesia.

Namun dari sekian banyak bangunan peninggalan Belanda, tak sedikit pula yang sebenarnya sudah rubuh dan hancur tak berbekas. Sangat disayangkan sebenarnya hilangnya bangunan bersejarah seperti ini bisa memutus mata rantai sejarah pada masa lalu. Nah, berikut akan kami sajikan ulasan mengenai bangunan sejarah yang telah hancur itu, baik karena kesengajaan atau karena bencana alam. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca Juga
Nggak Terima Anaknya Ditegur, Orangtua Zaman Now Langsung Hajar Guru SMA di Kendari
4 Fakta Mengenai Beberapa Petinggi TNI yang Dilarang Menginjakkan Kaki di Amerika

1. Gedung Societeit Harmonie

Daerah Harmoni yang terkenal dengan halte transit busway-nya dulunya memiliki nilai historis yang tinggi. Munculnya nama ‘Harmoni’ tak lepas dari sejarah di tahun 1776 bahwa di tempat tersebut dulunya pernah berdiri gedung Societeit Harmonie. Gedung ini tepatnya terletak di ujung jalan Veteran dan Majapahit.

Gedung_Soci_teit_de_Harmonie_di_Pasuruan_antara
Gedung Societeit Harmonie [ Image Source]

Gedung Societeit harmonir dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Reineir de Klerk kemudian dilanjutkan Daendels hingga Raffles dan secara resmi dibuka tahun 1868. Gedung ini menjadi tempat berkumpulnya para sosialita Belanda, yakni perempuan-perempuan Belanda yang suka berdandan sangat cantik dan mewah. Sayangnya nilai historis bangunan ini sudah hilang sejak tahun 1985 karena di tahun itu bangunan ini dirubuhkan untuk dibuat lapangan parkir Sekretariat Negara.

2. Taman Wihelmina

Taman Wihelmina dulunya disebut-sebut sebagai taman paling ‘wow’ di zamannya. Pada saat pembangunannya di abad ke-19, taman ini menjadi taman terluas dan yang paling indah di Asia. Sayangnya, semenjak kemerdekaan taman ini tidak terurus lagi dan akhirnya diputuskan untuk dirubuhkan guna membangun Masjid Istiqlal di bekas reruntuhan lokasinya.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Brug_in_het_Wilhelminapark_Batavia_TMnr_60022431
Taman Wihelmina [ Image Source]

Dulunya di taman ini terdapat Monumen Waterloo atay Atjeh Monument untuk mengenang para serdadu Belanda yang tewas selama Perang Aceh. Uniknya, taman yang dibangun Daendels ini terletak di dekat Kali Ciliwung yang saat itu masih bersih (tidak kotor seperti sekarang) sampai-sampai terdengar gemericik air yang menyegarkan kala berjalan-jalan di situ.

3. Hotel Des Indes

Hotel Des Indes didirikan pada tahun 1856 dan pernah menjadi saksi sejarah di tanggal 7 Mei 1949 sebab di hotel ini terjadi penandatanganan Perjanjian Roem-Royen antara Indonesia dan Belanda. Perjanjian ini sangat penting karena menandakan dimulainya babak penghentian Agresi Militer Belanda di Yogyakarta dan menjadi gerbang menuju Konferensi Meja Bundar di mana Belanda mengakui kedaulatan Negara Indonesia.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Hotel_des_Indes_TMnr_10017569
Hotel Des Indes [ Image Source]

Penamaan Hotel Des Indes disebut-sebut merupakan usulan dari Douwes Dekker. Hotel ini terkenal karena kemewahannya, bahkan Alfred Russel Wallace, salah satu ilmuwan evolusi dunia sebelum Charles Darwin, pernah menginap di hotel ini untuk penelitian di Indonesia. Sayangnya di tahun 1971 hotel bersejarah ini dirubuhkan untuk dibangun Kompleks Pertokoan Duta Merlin.

4. Gedung Kerapatan Deli

Kota Medan dulunya merupakan ibukota Kabupaten Deli Serdang sebelum dipindahkan ke Lubuk Pakam. Kantor Bupati Deli Serdang menempati Gedung Kerapatan yang berfungsi sebagai ruang kerja Sultan dan juga sebagai lembaga peradilan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada hokum Kolonial Belanda.

30) Gedung
Gedung Kerapatan Deli [ Image Source]

Gedung ini dibangun pada masa kekuasaan Sultan Ma’mun Al Rasyid Alamsyah pada tahun 1906. Gedung Balai Kerapatan terletak tepat di depan Istana Maimun yang sekarang berlokasi di Jalan Brigjen. Katamso. Namun karena kebijakan Walikota Medan, Abdillah, di tahun 2004 bangunan bersejarah ini justru dirubuhkan rata dengan tanah.

5. Gereja Kubah

Pada tahun 1736 di Kota Tua Batavia pernah berdiri sebuah gereja. Gereja itu bernama Gereja Kubah atau dalam Bahasa Belanda disebut sebagai Nieuwe Hollandsche. Gereja ini dibangun oleh Christoffer Moll yang sebenarnya tidak mempunyai keahlian di bidang arsitektur. Oleh karena itu saat terjadi gempa bumi 3 tahun kemudian gereja ini mengalami kerusakan yang parah.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Willemskerk_in_Batavia._TMnr_60005155
Gereja Kubah [ Image Source ]

Kerusakan gereja ini diperparah dengan bangkrutnya VOC. Untuk itu Daendels memerintahkan supaya bangunan gereja ini dibongkar dan tanahnya dijual untuk menambah kas kompeni pada tahun 1808. Akhirnya sekarang bangunan ini sudah tidak berbekas sama sekali. Namun, jika ingin melihat miniatur bangunan Gereja Kubah sudah ada di Museum Fatahillah.

6. Pabrik Es Saripetojo

Sekilas bangunan Pabrik Es Saripetojo memang tidak spesial. Namun perlu diketahui pabrik ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena sudah berdiri sejak zaman Kolonial Belanda. Sayangnya atas perintah Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, bangunan itu akan dirubuhkan karena hendak dibangun supermarket besar.

0608sari-petojo
Pabrik Es Saripetojo [ Image Source ]

Hal ini memicu perseteruan hebat dengan Walikota Solo saat itu, Jokowi, yang tak setuju dengan penghancuran gedung tersebut. Selain karena bersejarah, di daerah itu banyak berdiri pasar tradisional yang yang menjadi penghidupan penduduk sekitar dan tak elok jika justru supermarket kapitalis yang hendak dibangun di daerah itu. Namun berkat kepiawaian Gubernur Bibit Waluyo, gedung Pabrik Es Saripetojo berhasil diratakan dengan tanah.

7. Benteng Vastenburg

Benteng Vastenberg dibangun tahun 1745 oleh Gubernur Jendral Imhoff di Solo. Sayangnya peninggalan sejarah ini tanpa diketahui dengan jelas telah dijual kepada pihak swasta oleh Walikota Solo, Hartomo, untuk dibangun hotel bintang 5.

vastenburg
Benteng Vastenberg [ Image Source]

Pada masa pemerintahan Jokowi saat masih menjadi walikota Solo, proses pengembalian Benteng Vastenburg ini terus diperjuangkan untuk rakyat Solo. Namun karena masalah hak kepemilikan ini sangat rumit dan jelas-jelas benteng ini telah dibeli pihak swasta secara legal, pengembalian Benteng Vastenburg masih menjadi tarik-ulur hingga sekarang. Mirisnya, kondisi bangunan ini sekarang terbengkalai dan tak terawat oleh pemiliknya.

Nah, itu tadi 7 bangunan bersejarah Bangsa Indonesia yang sengaja dihancurkan baik oleh pemiliknya maupun karena kebijakan pemerintah. Di zaman modern seperti ini memang kebutuhan manusia semakin meningkat. Namun tidak arif rasanya jika peninggalan-peninggalan bersejarah justru menjadi korban atas cepatnya laju modernisasi. Sadar atau tidak sadar, bangunan itu adalah hak bagi generasi penerus bangsa karena mereka lah yang akan mewarisi peninggalan itu sebagai suatu kebesaran sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA