Asal Mula Kalijodo, dari Tempat Mencari Jodoh Menjadi Lokasi Prostitusi

oleh Tetalogi
08:57 AM on Mar 8, 2016

Kawasan Kalijodo beberapa waktu terakhir ini terus mendapatkan sorotan. Tempat yang kini dikenal sebagai lokasi prostitusi ini ditertibkan dan fungsinya akan diubah kembali menjadi fungsi awalnya yaitu sebagai area terbuka hijau.

Kawasan Kalijodo saat ini memiliki reputasi yang buruk sebagai tempat hiburan malam, judi dan prostitusi. Padahal dulunya tempat ini jauh dari kesan negatif seperti itu.

Baca Juga
4 Hal Negatif yang Mungkin Akan Dialami Masyarakat Jika Penggunaan KTP Sebagai Syarat SIM Card Terlaksana
Tukang Bakmi Bak Seleb, Gaya dan Dandanan Jamila “Janda” Dijamin Bikin Publik Melongo

Tempat Tradisi Peh Cun

Dulunya tempat ini disebut Kali Angke dan menjadi lokasi dilaksanakannya tradisi Peh Cun pada tahun 1600an. Salah satu tradisinya adalah pesta air yang diikuti muda-mudi laki-laki dan perempuan sambil menaiki perahu melintasi Kali Angke. Ketika seorang laki-laki suka dengan seorang perempuan yang ada di perahu para perempuan, ia akan melemparkan kue tiong cupia yang terbuat dari campuran terigu dan berisi kacang hijau. Jika perempuan tersebut juga suka, maka ia melemparkan kue yang sama kepada si laki-laki.

Kalijodo [Image Source]
Kalijodo [Image Source]
Tradisi mencari jodoh inilah yang kemudian membuat kawasan ini disebut dengan Kalijodo. Bahkan meski tradisi ini dilakukan oleh etnis Tionghoa, banyak warga berdatangan untuk melihat perayaan tersebut. Namun sejak tahun 1958, tradisi tersebut sudah tidak dirayakan lagi setelah Wali Kota Jakarta, Sudiro, mengeluarkan peraturan tersebut.

Berubah Menjadi Kawasan Prostitusi

Sebagai tempat yang ramai dikunjungi oleh orang-orang yang mencari hiburan, Kalijodo mulai menjadi kawasan prostitusi sejak abad ke-18. Di sini, para pria mencari Ca Bau Kan. Ca Bau Kan sebenarnya berarti perempuan, tapi maknanya menyempit menjadi perempuan pribumi yang diperistri Tionghoa, sebelum kemucian menjadi Ca-bo untuk menyebut istilah pelacur.

Prostitusi di Kalijodo [Image Source]
Prostitusi di Kalijodo [Image Source]
Para wanita mengenakan pakaian cantik dan menyanyikan lagu-lagu Tionghoa. Beberapa dari mereka memang wanita Tionghoa asli, tapi kebanyakan adalah wanita asli pribumi. Awalnya kegiatan prostitusi hanya dilakukan di atas perahu yang berlayar dari kwitang ke Kalijodo. Tapi lama kelamaan berdirilah berderet-deret rumah bordir di sisi Kalijodo dan lokasi ini menjadi tempat para pria mencari gundik atau wanita simpanan.

Semakin Ramai di Abad 21

Lambat laun, kawasan Kalijodo semakin ramai dikunjungi dan mulai bermunculan kafe-kafe dan tempat hiburan lainnya. Berbagai macam masyarakat datang untuk menikmati hiburan di sini. Tidak heran jika Kalijodo kini dikenal sebagai tempat pelacuran.

Kehidupan malam di Kalijodo [Image Source]
Kehidupan malam di Kalijodo [Image Source]
Tidak hanya itu saja, sejak pemerintah menutup lokalisasi Kramat Tunggak tahun 1999, para pemburu kenikmatan ini mulai berkunjung ke Kalijodo dan membuatnya semakin ramai saja. Maka bukan langkah yang keliru jika akhirnya lokasi ini juga mulai ditutup untuk mengurangi penyakit masyarakat.

Akhirnya Berhasil Ditutup

Setelah berdiri selama puluhan tahun, kini kawasan prostitusi Kalijodo telah ditutup dan bangunannya dirobohkan. Sebenarnya tahun 2000an, Kalijodo sudah pernah digusur. Tapi kemudian malah buka lagi dengan membeli rumah-rumah yang ada di seberangnya hingga munculah lokasi Kalijodo di tempat yang sekarang ini.

Kalijodo dihancurkan [Image Source]
Kalijodo dihancurkan [Image Source]
Kini, di bawah pemerintahan Ahok, kawasan prostitusi Kalijodo kembali digusur dan dirobohkan. Warga yang tinggal di sana direlokasi ke rumah susun. Sementara itu, pemerintah juga menyiapkan pelatihan kerja agar para PSK mau beralih profesi ke yang lebih baik.

Menutup dan merobohkan kawasan lokalisasi yang sudah berdiri puluhan tahun adalah langkah yang besar. Bagaimana tidak, kawasan Kalijodo juga dikenal dengan tempat banyaknya preman yang konon adalah orang-orang kejam. Dengan ditutupnya Kalijodo dan berbagai tempat hiburan malam lain di kota-kota lainnya, diharapkan kegiatan yang bersifat merusak moral seperti ini bisa semakin berkurang.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA