Kisah Asal Muasal Guling yang Bikin Syok!

oleh Endah Boom
07:00 AM on Aug 13, 2016

Bagi kebanyakan orang Indonesia, tidur tanpa guling jelas tak lengkap rasanya. Bahkan ada yang tak bisa tidur tanpa guling. Guling pun tak sekadar sebagai teman tidur tapi juga pemberi kenyamanan yang tak tergantikan. Tapi tahu nggak kalau ternyata guling punya cerita dan sejarah yang panjang?

Kisah asal muasal terciptanya guling ternyata sangat unik dan menarik. Bahkan sudah ada sejak zaman penjajahan. Guling pun dulu juga disebut “Dutch Wife” atau Istri Belanda. Penasaran dengan sejarah dan kisah asal muasalnya? Yuk, kita ikuti info lengkapnya di sini.

Baca Juga
Dinobatkan Jadi Atlet Tercantik dan Terseksi SEA Games 2017, Ini Lho Pesona Lindswell Kwok Yang Bikin Indonesia Bangga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main

Pertama Kali Diperkenalkan Pada Zaman Penjajahan

Ternyata oh ternyata, guling diperkenalkan sudah sejak zaman penjajahan Belanda. Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Jejak Langkah memaparkan soal hal ini. Diceritakan di dalam percakapan sesama mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi, Wilam berkelakar soal kehidupan para tuan tanah bangsa Inggris kepada para sahabatnya, termasuk pada Minke. Salah satu yang diutarakannya adalah, “Tahu kalian apa sebab di dalam asrama tidak boleh ada guling?” Dari situ ia mulai panjang lebar menjelaskan soal guling.

Zaman kependudukan Belanda [Image Source]
Zaman kependudukan Belanda [Image Source]
Cerita bermula dari kedatangan orang-orang Belanda dan Eropa ke Hindia. Saat itu mereka tak bisa membawa perempuan untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka. Untuk menyalurkan hasrat mereka, terpaksalah menggundik atau menyewa wanita pekerja seks komersial. Hanya saja saat itu orang Belanda yang terkenal pelit, tak mau menggundik. Akhirnya dibuatlah guling. Guling dijadikan teman tidur untuk menggantikan gundik.

Nama Lain Guling adalah “Dutch Wife”

Guling dahulu punya sebutan yang unik, yaitu “Dutch Wife” atau Istri Belanda. Sebutan ini dibuat oleh Letnan Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stanford Raffles setelah kekuasaan Belanda digantikan oleh Inggris. Sebutan “Dutch Wife” ini pun lebih pada sebuah ejekan dari tentara Inggris yang tak suka pada Belanda. Apalagi kata “Dutch” sering diidentikkan dengan sesuatu yang bernada ejekan dan merendahkan. Menurut Encyclopedia of World and Phrase Origins karya Robert Hendrickson, tertulis “Orang-orang Belanda begitu tersinggung oleh bahasa Inggris selama tiga abad sehingga pada 1934 pemerintah mereka memutuskan untuk membuang kata ‘Dutch’ dan menggunakan kata ‘Netherlands’ jika memungkinkan.”

Dutch Wife [Image Source]
Dutch Wife [Image Source]
Dalam kamus Oxford English Dictionary yang disusun dari tahun 1879 hingga 1927, istilah “Dutch Wife” punya definisi sendiri, yaitu sebuah kerangka berlubang-lubang dari rotan yang digunakan di Hindia Belanda dan lain-lain untuk sandaran anggota badan di tempat tidur.

Walaupun sebutan “Dutch Wife” digunakan tentara Inggris dengan maksud menghina Belanda, tentara Inggris sendiri ternyata juga membutuhkannya saat berada di Hindia. Orang Belanda pun tak mau kalah. Mereka juga punya istilah sendiri untuk menyebut guling, yaitu “British Doll” atau Boneka Inggris.

Guling Dahulu Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Golongan Atas

Kalau sekarang sih, siapa saja bebas memiliki dan menggunakan guling. Tapi dahulu ternyata guling menjadi bagian dari gaya hidup golongan atas. Guling yang lahir dalam kehidupan Indisch pada abad ke-18/19, tak lain hasil campuran dari tiga kebudayaan, yaitu Indonesia, Tiongkok, dan Eropa.

Guling bangsawan [Image Source]
Guling bangsawan [Image Source]
Hadinoto, dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam tulisannya “Indische Empire Style”, yang dimuat di Jurnal Dimensi Arsitektur, Desember 1994 memaparkan, “Percampuran kebudayaan ini bisa dilihat misalnya pada pemakaian perabot seperti kursi Eropa, meja, dan tempat tidur dengan bantal, termasuk perlengkapan baru yang disebut guling atau Dutch Wife, yang tidak ada dalam perlengkapan tempat tidur Eropa, jadi khusus Indisch.”

Pramoedya Ananta Toer juga menuliskan, “Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang, terutama para priyayi berkepala kapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling.” Hal ini menunjukkan bahwa dahulu pribumi Hindia sendiri cuma mengikuti kebiasaan orang Belanda yang menggunakan guling. Dan awalnya yang meniru kebiasaan ini adalah para priayi atau golongan atas.

Kisah John S.C. Abbott yang Terkejut Saat Mengenal Guling

Keberadaan guling di Hindia menghadirkan berbagai cerita unik. Salah satunya adalah kisah John S.C. Abbott, seorang sejarawan juga pastor dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dalam tulisan “A Jaunt in Java”, yang dimuat di Harper’s New Monthly Magazine Volume XV, Juni-November 1857, ia menceritakan soal pengalaman uniknya mengenal guling untuk pertama kali.

Ilustrasi guling [Image Source]
Ilustrasi guling [Image Source]
Saat melemparkan diri ke ranjang, kata Abbott, Anda akan terlentang dengan Dutch wife. “Jangan terkejut! Anda tak akan mendapatkan curtain lecture (omelan istri) karena Dutch wife berbentuk bulat, bantal panjang keras, yang bikin takjub setiap orang asing ketika melihatnya terbaring rapi dan kaku di tengah ranjang seperti mayat kecil,” tulis Abbott. Abbot kemudian jadi bisa menemukan cara terbaik memperlakukan si “Istri Belanda” ini.

Abbot menjelaskan bahwa guling harus diletakkan di bagian bawah kaki atau lengan. Tujuannya untuk mencegah kontak sentuhan yang terlalu hangat dengan kasur. Selain itu, bisa memperlancar sirkulasi udara yang lebih sejuk. Tinggal di iklim tropis, keberadaan guling saat tidur jelas memberi rasa nyaman tersendiri. Abbot juga mengatakan kalau guling yang diisi dengan kapas jauh lebih baik daripada guling yang berongga-rongga dan terbuat dari bambu buatan Tiongkok.

Guling Tak Hanya Ada di Indonesia

Apakah guling saat ini cuma dipakai dan digunakan oleh orang Indonesia saja? Ternyata tidak. Guling juga bisa ditemukan di sejumlah negara lain. Sebut saja Korea, Tiongkok, dan Jepang. Hanya saja bentuk guling bisa berbeda dii tiap negara.

Jukbuin [Image Source]
Jukbuin [Image Source]
Sebutan untuk guling juga tak sama. Di Tiongkok, guling disebut zhufuren. Sementara di Korea, guling punya nama jukbuin dan di Jepang disebut chikufujin. Tapi guling yang dimaksud bukanlah guling berbahan kapuk seperti yang kita punya. Bentuk guling mereka memanjang dan terbuat dari bambu. Guling ini punya rongga yang diyakini bisa memperlancar aliran darah dan menyerap keringat di kaki.

Siapa yang sangka kalau guling yang tiap hari menemani kita tidur itu punya sejarah yang sedemikian panjang. Unik dan menarik sih, terutama soal sebutannya. Tak hanya itu, guling juga jadi bukti tak terbantahkan tentang betapa pelitnya orang-orang Belanda dulu.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA