Kisah Anne Frank dan Buku Harian yang Menceritakan Kekejaman Nazi Pada Masa Holocaust

oleh Aisyah Putri
09:00 AM on Feb 11, 2017

Meskipun kita tidak pernah menyaksikan langsung peristiwa Holocaust, namun masih banyak orang yang merasakan ‘sisa-sisa’ kengeriannya. Apalagi membayangkan bagaimana kira-kira ketakutan para korban saat itu. Mereka harus selalu berada dalam persembunyian, tidak bisa beraktivitas normal, dan tidak pernah merasa aman.

Seorang anak perempuan Yahudi, Anne Frank, menceritakan apa yang ia alami dan rasakan saat Holocaust berlangsung. Ia menuliskan kesehariannya dalam sebuah buku diary yang kemudian diterbitkan menjadi buku The Diary of a Young Girl. Buku ini menarik banyak perhatian dan telah diterjemahkan ke dalam 70 bahasa. Inilah kisah gadis malang yang menjadi korban kekejaman rezim Nazi.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Mengungsi ke Belanda

Anne Frank (dua dari kiri) bersama teman-temannya di Amsterdam [Image Source]
Pada tahun 1933, Jerman mengadakan pemilu yang memenangkan Partai Nazi yang dikepalai Adolf Hitler. Keluarga Frank yang terdiri dari Otto, Edith, serta dua anaknya Margot dan Anne mengungsi ke Belanda. Saat itu Anne masih berusia empat tahun. Di Amsterdam, mereka merasakan kehidupan yang bahagia. Sang ayah memiliki pekerjaan yang stabil, anak-anak pun berprestasi di sekolah. Sayangnya kehidupan itu tidak berlangsung lama.

Pada tahun 1940, kekuasaan Nazi mencapai Belanda. Kaum Yahudi yang tinggal di Belanda pun menjadi sasaran. Mereka menerapkan berbagai peraturan yang memberatkan para Yahudi. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun merasakan beratnya sistem aturan pada masa tersebut.

Menulis Buku Harian

Buku harian Anne Frank [Image Source]
Setiap hari, Anne tumbuh menjadi anak yang periang dan banyak tingkah. Suatu hari ia meminta buku harian untuk kado ulang tahunnya yang ke-13. Ayahnya mengabulkan permintaan itu. Saat itulah Anne mulai menceritakan kehidupannya selama tinggal di Achterhuis.

Anne memang memiliki saudara perempuan. Tapi kepribadian yang berbeda menjadikan mereka tidak tumbuh sebagai sahabat. Anne yang merasa kesepian menjadikan diary-nya sebagai sahabat. Ia member nama buku itu Kitty.

Salah satu halaman dari buku harian Anne Frank [Image Source]
Diary dimulai pada tanggal 20 Juni 1942. Ia memulai dengan menuliskan larangan-larangan bagi kaum Yahudi seperti pelarangan menonton bioskop. Ini membuatnya sedih karena ia sangat suka menonton film. Ada juga peraturan anak-anak wajib belajar di sekolah khusus Yahudi yang membuatnya berpisah dengan kawan-kawannya.

Pada Kitty, Anne menceritakan keinginannya untuk menjadi jurnalis. Ia pun mulai menulis ulang diary-nya dengan harapan supaya buku itu dapat diterbitkan sebagai novel setelah perang berakhir.

Tinggal di Kamar Rahasia

Model rumah persembunyian Anne Frank dan keluarga [Image Source]
Keadaan Kota Amsterdam semakin tidak kondusif bagi kaum Yahudi. Untuk melindungi keluarganya, Otto pun membawa mereka ke tempat persembunyian yang disebut dengan Achterhuis (rumah kecil di belakang gedung) yang terletak di belakang gedung kantor Otto. Pintu masuk menuju Achterhuis ditutup dengan rak buku supaya tidak ada yang curiga bahwa ada bangunan lain di belakang gedung. Hanya empat karyawan kantor itu yang mengetahui tempat persembunyian keluarga Frank. Salah satunya adalah Miep Gies.

Empat karyawan yang membantu keluarga Frank dan Otto berfoto bersama pasca perang [Image Source]
Hidup dalam persembunyian sangatlah tidak menyenangkan. Terutama bagi Anne yang mulai mengalami masa puber. Ia tidak bisa bertingkah karena suara gaduh yang ia timbulkan akan menimbulkan kecurigaan. Sementara itu, rumah terasa makin sempit karena mereka harus menerima pengungsi lain yang ikut bersembunyi dari Nazi.

Perbedaan kepribadian antara Anne dan penghuni lain membuat Anne frustasi. Kalau bukan karena Kitty yang jadi tempat curhatnya, mungkin dia sudah benar-benar gila saat itu. Segala perasaan dan peristiwa yang terjadi di Achterhuis ditulisnya dalam buku tersebut..

Cinta Pertama

 

Tentara Jerman [Image Source]
Meskipun Anne merasa tidak nyaman berada bersama pengungsi lain, namun ia juga merasakan kebahagiaan saat bersama mereka. Peter, salah seorang pengungsi berhasil mengambil hati Anne. Awalnya mereka sering cek cok, tapi seiring berjalannya waktu, bunga-bunga cinta mulai bersemi di hati kedua remaja itu. Anne pun mendapatkan ciuman pertamanya dari Peter.

Tulisan Terakhir

Diary Anne berakhir pada tanggal 1 Agustus 1944. Tiga hari setelahnya, pada tanggal 4 Agustus 1944, Achterhuis diserbu polisi berseragam Jerman yang dibawahi oleh Nazi. Semua pengungsi tertangkap, termasuk Anne. Mereka diinterogasi dan dipaksa tinggal di Kamp Konsentrasi, semacam penjara untuk lawan politik dan siapa pun yang berani melawan rezim.

Miep Gies, salah seorang karyawan yang menyembunyikan keluarga Frank kembali ke Achterhuis setelah dibebaskan dari hukuman. Ia menemukan diary Anne berceceran di lantai. Ia pun mengumpulkan setiap helai kertas dan menyimpannya.

Diary dan coretan-coretan Anne Frank lainnya [Image Source]
Enam bulan kemudian, di bulan Februari 1945, Kamp Konsentrasi tempat Anne dan keluarganya tinggal diserang wabah penyakit. Anne yang saat itu mengalami kekurangan gizi, sangat mudah tertular penyakit dari tahanan lainnya. Ia pun meninggal tak lama kemudian. Ibu dan kakaknya sudah meninggal mendahuluinya. Hanya sang ayah, Otto Frank yang keluar dari Kamp Konsentrasi dalam keadaan hidup.

Edisi pertama buku Anne Frank, koran yang meliputnya, serta diary Otto Frank di hari penerbitan [Image Source]
Saat Otto Frank pulang, Miep Gies menyerahkan buku diary Anne padanya. Awalnya ia sempat ragu, namun kemudian ia memutuskan untuk menerbitkan buku diary Anne sebagai novel seperti yang diinginkan putrinya.

Malang tak dapat ditolak, catatan Anne Frank hanya sekelumit dari fakta tentang Holocaust. Ia termasuk satu dari jutaan anak dan keluarga Yahudi yang menjadi korban peristiwa nahas tersebut. Kitty memang cuma buku harian anak kecil, tapi lantas menjadi bagian dari sejarah yang membuat kita tahu bagaimana keadaan Holocaust saat itu.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Artis Cilik Zaman Dulu yang Penampilannya Sekarang Bikin Kita Mangap Gak Percaya Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo Sempat Jadi Terkenal Secara Instan, Seperti Ini Nasib 4 Artis Dadakan yang Karirnya “Terjun Bebas” 7 Wanita Tercantik di Jepang ini Bikin Dengkul Lemes Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Pria Menikahi Boneka yang Ceritanya Menuai Kontroversi, Ternyata Kenyataannya Bikin Nyesek Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis 15 Meme FTV Ini Bikin Kamu Nyadar, Bahwa Hidup Nggak Semanis Adegan Film di TV Bukan So Sweet, 10 Foto Prewedding Ini Malah Punya Konsep Kocak Abis, Pasti Ketawa Liatnya Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA