Ketika Anak SD Tidak Hanya Main PS Tapi Juga Jadi Pembunuh Keji, Seperti 4 Kasus ini

oleh Rizal
15:28 PM on Sep 21, 2015

Masa kecil adalah saat yang paling membahagiakan, semua orang setuju dengan ungkapan ini. Bagaimana tidak, di saat seperti itu kita tidak perlu memikirkan hal-hal berat seperti tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Cukup bermain dengan riang dan punya banyak teman. Masalah terberat pun mungkin hanya mengerjakan PR seusai sekolah.

Anak-anak kecil pun identik dengan keluguan yang kerap memunculkan tingkah lucu yang bikin kita tertawa. Sama sekali tak terbesit di pikiran kalau mereka akan melakukan hal-hal jahat bahkan sampai membunuh seseorang. Namun di era sekarang hal tersebut benar-benar terjadi. Misalnya saja 4 kasus pembunuhan berikut yang pelakunya adalah bocah-bocah SD.

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

1. Bocah SD Dikeroyok Tiga Temannya Sampai Mati

Tahun 2014 lalu sempat terjadi kehebohan di lini masa yang membuat orangtua ketar-ketir. Ini adalah tentang pembunuhan Tamalanrea, bocah laki-laki kelas satu SD berusia 6 tahun. Mirisnya lagi, diketahui kalau pelakunya ada 3 orang dan merupakan teman sekelas korban. Kelas satu SD sudah bisa merencanakan pembunuhan? Sangat sulit dipercaya.

Entah apa alasannya, seorang siswa dipukul tiga temannya dan akhirnya tewas [Image Source]
Entah apa alasannya, seorang siswa dipukul tiga temannya dan akhirnya tewas [Image Source]
Kronologinya, saat itu korban tengah beristirahat usai jam pelajaran kedua. Lalu tiba-tiba tiga teman korban tiba-tiba saja memukulinya bergantian sampai tak sadarkan diri. Pihak sekolah dan orangtua pun bergegas membawa Tamalanrea ke rumah sakit. Sempat mendapatkan perawatan selama dua hari, sayangnya bocah malang ini harus berpulang. Alasan kenapa 3 pelaku ini tega berbuat brutal masih belum jelas. Namun, diduga kuat jika ini hanya masalah kecil dan sepele saja.

2. Gara-Gara Hutang Rp 1000 Tak Dibayar, Bocah SD Ditenggelamkan Teman Sendiri

Apa sih arti uang seribu untuk kita? Hampir tidak ada. Bahkan bayar parkir saya kita harus tambahkan seribu lagi. Meskipun tidak begitu bernilai bagi orang-orang dewasa, namun uang sejumlah ini ternyata cukup besar bagi anak-anak. Bahkan untuk mendapatkannya, mereka bisa melakukan pembunuhan. Seperti kasus yang dialami oleh bocah asal Bekasi ini.

Gara-gara uang lusuh dan bernilai kecil seperti ini, seorang bocah SD membunuh temannya sendiri [Image Source]
Gara-gara uang lusuh dan bernilai kecil seperti ini, seorang bocah SD membunuh temannya sendiri [Image Source]
Pelaku yang berinisial YI dengan tega membunuh korban bernama Nur Afiz Kurniawan. Alasannya sangat sepele, YI kesal lantaran teman baiknya tersebut tidak segera membayar hutangnya yang hanya Rp 1000. Cara membunuhnya tergolong sadis, korban ditenggelamkan di sebuah danau yang ada di perumahan Summarecon. Awalnya YI mendorong korban hingga akhirnya tercebur ke danau. Tak cukup dengan itu, pelaku juga mendorong kepala korban ke dalam air berkali-kali. Alhasil, korban pun tak bernyawa lagi dengan mulutnya yang berbusa.

Ketika dimintai keterangan polisi, pelaku yang masih 7 tahun ini awalnya hanya ingin membuat korban pingsan saja. Namun siapa sangka ternyata apa yang dilakukannya sampai menghilangkan nyawa seseorang.

3. Bocah SD Bunuh Teman yang Memergokinya Mencuri Telepon Genggam

Tanpa arahan yang benar, anak-anak bisa jadi pelaku kejahatan tingkat berat. Seperti yang dilakukan siswa SD berinisial A asal Jakarta ini. Ia dengan mudahnya mencuri sebuah telepon genggam. Parahnya, ketika dilaporkan oleh salah satu temannya, si A ini juga tega menghujamkan pisau berkali-kali kepada si pelapor tersebut.

Ketahuan mencuri telepon genggam dan dilaporkan ke sekolah, seorang siswa SD menusuk temannya dengan pisau dapur [Image Source]
Ketahuan mencuri telepon genggam dan dilaporkan ke sekolah, seorang siswa SD menusuk temannya dengan pisau dapur [Image Source]
Awal kejadiannya adalah ketika si A yang ketahuan mencuri telepon genggam yang ternyata milik ayah korban atau yang melaporkan tersebut. Korban bernama SM sendiri mengetahui hal tersebut dan kemudian meminta mengembalikan telepon genggam tersebut. Namun sayangnya, ternyata A malah sudah menjualnya. Lalu SM berinisiatif untuk melaporkan hal tersebut ke sekolah.

Mungkin karena kesal, akhirnya A melampiaskannya dengan menghujamkan sebuah pisau dapur ke perut SM berkali-kali. Tak lama setelah melakukan kejahatan kejinya itu, A pun ditangkap beserta barang buktinya sekaligus. Korban sendiri kritis meskipun akhirnya masih bisa tertolong.

4. Berawal Saling Cela, Siswa SD Bunuh Temannya Sendiri

Kembali ke masa-masa kecil dulu. Apakah kamu pernah jadi pelaku atau korban bercandaan yang melibatkan nama orangtua? Misalnya memanggil nama orangtua teman dengan seenaknya dan sebaliknya. Ternyata hal ini bisa sangat fatal. Seperti yang dilakukan oleh dua siswa SD asal Balikpapan ini. Gara-gara saling olok nama orangtua, akhirnya salah satu dari mereka meregang nyawa.

Gara-gara saling olok nama orangtua, seorang bocah SD dibunuh temannya [Image Source]
Gara-gara saling olok nama orangtua, seorang bocah SD dibunuh temannya [Image Source]
Awalnya kedua bocah SD yang tinggalnya tak berjauhan ini saling olok orangtua masing-masing. Pelaku yang emosi kemudian menghajar korban dengan menghantamnya dengan sebuah batu berkali-kali di bagian kepala. Alhasil, korban pun meninggal seketika. Kemudian pelaku pun pergi setelah menutupi jasad korban dengan daun pisang.

Selang beberapa hari kemudian orangtua korban pun mencari anaknya tersebut yang dibantu oleh warga setempat. Pelaku pun juga pura-pura ikut mencari. Akhirnya korban pun ditemukan, tentunya sudah kaku dan dingin. Kemudian pihak kepolisian mulai melakukan olah TKP. Seorang saksi lalu menyebutkan jika terakhir terlihat bersama si pelaku. Dari sini akhirnya semuanya terungkap.

Miris sekali melihat deretan kejadian di atas. Bagaimana tidak, bocah SD yang menurut istilah kebanyakan “kencing saja masih belum benar” sudah bisa melakukan pembunuhan semacam ini. Bahkan motifnya ada yang begitu sederhana. Inilah yang dikhawatirkan semua orangtua.

Jangan pernah sekalipun meremehkan konflik yang dialami anak-anak. Dengarkan cerita mereka dan kemudian cari solusi terbaiknya. Jangan sampai hal-hal seperti ini kembali terulang lagi.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA