5 Sejarah Lagu Daerah yang Ngetop di Tahun 90-an

oleh wahyu
08:08 AM on Dec 14, 2014

Lagu daerah adalah lagu sepanjang jaman. Jika lagu-lagu pop atau dangdut jaman sekarang hanya bisa dikenal dalam hitungan bulan, maka lagu daerah akan dikenang sepanjang masa.

Dari jaman kita kecil, di sekolah sudah diajarkan tentang lagu-lagu daerah ini. Pada era 90-an, sempat ngetop lomba pentas seni yang menampilkan lagu-lagu daerah. Di situlah kreativitas para siswa diuji. Bukan hanya ujian tentang lagu daerah apa yang paling pas dibawakan, namun juga uji kreativitas tentang kompilasi lagu daerah sehingga terdengar lebih menarik dan lebih indah. Nah, berikut 5 sejarah lagu daerah yang saat itu hampir selalu ditampilkan di panggung pentas seni.

Baca Juga
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi
4 Aksi Greget yang Dilakukan Barisan Patah Hati di Pernikahan Mantan, Dijamin Bikin Geleng Kepala

1. Ampar-Ampar Pisang

Lagu ini berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan. Penciptanya Hamiedan AC. Lagu ini pada awalnya dinyanyikan secara iseng oleh masyarakat Kalimantan Selatan saat membuat rimpi, yaitu sejenis kue/makanan yang terbuat dari pisang. Cara membuat rimpi adalah dengan cara mengampar (menyusun) pisang dan dibiarkan hingga matang. Setelah itu pisang kembali diampar untuk dijemur di bawah sinar matahari sampai pisang mengeras dan berbau manis.ampar-ampar-pisang

Lagu Ampar-ampar pisang menceritakan tentang pisang yang diampar dan dikerubuti binatang kecil yang di sana disebut dengan bari-bari. Di akhir lagu, ada sedikit ancaman bagi anak yang suka mencuri pisang yang dijemur, yaitu berupa “dikitip bidawang” yang artinya digigit biawak. Anda percaya?

Ampar-ampar pisang. Pisangku balum masak. Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x

2. Cublak-cublak Suweng

Lagu daerah ini merupakan lagu pengiring salah satu permainan tradisional di Jawa. Ada banyak versi tentang syairnya, tergantung di daerah mana lagu tersebut dinyanyikan, Namun permainan tradisional yang dimainkan tetaplah sama. Permainan dilakukan oleh beberapa anak sekaligus, Satu anak duduk telungkup seperti posisi sujud dan memejamkan matanya sementara anak-anak lainnya duduk mengitarinya. Tangan anak-anak yang duduk tersebut dalam posisi menengadah. Salah seorang anak membawa batu kerikil dan menggilirkan batu itu di tangan-tangan yang menengadah tersebut. Sambil menggilir batu anak-anak menyanyikan lagu ini. Saat lagu selesai, seluruh tangan yang menengadah harus sudah dikatupkan dan anak yang telungkup akan bangun . Selanjutnya dia akan menebak siapa yang menggenggam batu kerikilnya. Jika tebakannya salah, maka dia harus kembali telungkup. Namun jika tebakannya benar, maka ganti si pemegang kerikil yang harus bertelungkup.cublak-cublak-suweng

Konon, permainan ini awalnya dikenalkan oleh Walisongo. Dan meskipun hanya berupa permainan sederhana, namun sebenarnya penuh makna, yang intinya bahwa dalam mencari harta (yang disimbulkan dengan batu kerikil) harus dengan cara yang baik dan tetap tunduk (disimbulkan dengan bertelungkup/bersujud) kepada Tuhan.

Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter. Mambu ketundung gudhel. Pak gempo lerak-lerek. Sopo ngguyu ndelekakhe Sir – sir pong ‘dele bodhong 2x

3. Gundul Pacul

Tembang yang berasal dari Jawa Tengah ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya, Seperti halnya Cublak-cublak suweng, di balik syairnya yang sederhana, lagu ini memiliki makna filosofis yang mendalam.Gundhul-Pacul

Pada prinsipnya, lagu Gundul Pacul mengingatkan bahwa manusia yang tidak menggunakan keempat inderanya (mata, hidung, telinga, dan mulut dengan baik akan mengakibatkan gembelengan atau sombong. Sedangkan para pemimpin yang tidak menjunjung amanah yang diberikan oleh rakyat akan jatuh dan tidak bisa mempertahankan kekuasaannya. Kepemimpinannya itu berantakan sia-sia dan tidak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.

Gundul- gundul pacul cul gemblelengan. Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

4. Yamko Rambe Yamko

Lagu daerah berirama dinamis ini berasal dari daerah Papua. Meski nadanya terkesan riang dan ceria, sebenarnya lagu ini bercerita tentang kesedihan dan kepahlawanan. Kesedihan akibat adanya peperangan di suatu negeri, di mana tunas bangsa banyak yang tumbang mempertahankan negerinya. Kesedihan akibat hilangnya para tunas bangsa itulah yang hendak diungkapkan dalam lagu ini.

Hee yamko rambe yamko…Aronawa kombe. Hee yamko rambe yamko…Aronawa kombe. Teemi nokibe kubano ko bombe ko, Yu mano bungo awe ade

5. Jali-jali

Lagu daerah dari Betawi ini konon dikembangkan oleh kaum China peranakan di Jakarta melalui musik tradisional mereka, gambang kromong, yang kemudian menjadi musik khas Betawi. Selanjutnya lagu ini dipopulerkan oleh M. Sagi pada tahun 1942.

Uniknya, intro lagu ini dinyanyikan secara bersahutan antara wanita dan pria. Baru setelah itu lagunya dinyanyikan.

Seperti kebanyakan lagu yang berasal dari Betawi, lirik jali-jali merupakan pantun yang dipadukan musik riang yang berfungsi untuk penghibur hati yang sedang bersedih. Jadi pada setiap bait, baris pertama dan kedua hanyalah sampiran sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan pesan yang ingin disampaikan.

ini dia si jali-jali…lagunya enak lagunya enak merdu sekali. capek sedikit tidak perduli saying.. asalkan tuan asalkan tuan senang di hati.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA