5 Puisi Untuk Ibu di Hari Ibu

oleh didi
13:56 PM on Dec 22, 2014

Tidak akan ada rangkaian kata yang bisa menjelaskan kasih sayang seorang Ibu secara utuh dan sempurna. Sebab kasih ibu adalah hal yang terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Namun, tidak ada salahnya berterima kasih kepada ibu dengan puisi yang indah.

Jika anda ingin memberikan puisi untuk sang ibunda di Hari Ibu, namun anda kehabisan kata-kata, jangan khawatir. Berikut kami rangkum lima puisi tentang Ibu yang datang dari penyair-penyair besar Indonesia. Puisi ini bisa anda tulis ulang dalam kartu ucapan yang akan anda berikan kepada Ibu, atau malah menjadi inspirasi anda untuk menulis puisi baru.

Baca Juga
4 Hal Negatif yang Mungkin Akan Dialami Masyarakat Jika Penggunaan KTP Sebagai Syarat SIM Card Terlaksana
Tukang Bakmi Bak Seleb, Gaya dan Dandanan Jamila “Janda” Dijamin Bikin Publik Melongo

1. Puisi Bunda Airmata oleh M.H. Ainun Najib

MH Ainun Najib
MH Ainun Najib

Budayawan yang juga kita kenal sebaga Cak Nun ini memang meninggalkan jejak-jejak islami di setiap karyanya. Ia merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara dari keluarga sederhana di Jombang, Jawa Timur. Kepiawian Cak Nun dalam berpuisi sudah tidak diragukan lagi. Berikut satu puisi indahnya tentang seroang ibu.

Bunda Airmata

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu
Kalau Ibundamu menangis, para malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dr airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah
kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu

Puisi ini mengajarkan kita untuk banyak-banyak mengenang ibu dan kasih sayangnya yang begitu dalam, sehingga beliau akan menitikkan air mata untuk setiap kesusahan kita.

2. Sajak Ibu oleh Widji Tukul

Wiji Thukul
Wiji Thukul

Aktifis dan penyair kondang ini memang dikenal dengan puisi-puisi perjuangannya. Namun, tidak jarang, puisi Widji juga bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Salah satu puisinya yang mengungkapkan tentang kasih saya ibu adalah sajak yang berjudul “Sajak Ibu” berikut ini.

Sajak Ibu

Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
Tetapi menangis ketika aku susah
Ibu takbisa memejamkan mata
Bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Ibu akan marah besar
Bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
Ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
Ketabahan ibuku
Mengubah rasa sayur murah
menjadi sedap
Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar penjara
Ibu adalah hati yang rela menerima
Selalu disakiti oleh anak-anaknya
Penuh maaf dan ampun
Kasih sayang Ibu adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
Membangkitkan haru insan
dengan kebijakan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan

Puisi dari pria bernama asli Widji Widodo ini memang sederhana dan menyentuh, namun dekat sekali dengan keadaan sekitar kita. Sayang sekali, penyair kebanggaan Indonesia ini dinyatakan hilang sejak tahun 2000 dan tidak ditemukan hingga sekarang.

3. Puisi Ibu oleh Chairil Anwar

Chairil Anwar
Chairil Anwar

Penyair ini lahir dan dibesarkan di Medan, Sumatera Utara. Beliau kemudian pindah ke Jakarta bersama ibunya pada tahun 1940. Tema-tema puisi Chairil amat beragam dari pemberontakan, kematian dan eksistensialisme. Berikut ini adalah puisi menyentuh dari Chairil untuk seorang ibu.

Puisi Ibu

Pernah aku di tegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai

Ibu . . . . .

Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya akudegil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu . . . . .

Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun . . . . .
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….

Ibu . . . . .

Aku sayang padamu….
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterahkanlah dia
Selamanya…..

Sayang sekali sastrawan kenamaan ini tutup usia di tahun 1949. Kala itu umurnya masih sangat muda, 26 tahun. Dia dinobatkan sebagai pelopor angkatan 45 bersama sastrawan Asrul Sani dan Rivai Apin.

4. Ibu Oleh Khalil Gibran

Khalil Gibran
Khalil Gibran

Khalil Gibran adalah sastrawan yang lahir di Lebanon, 6 Januari 1883. Dia menulis dan menghabiskan masa produktifnya di Amerika Serikat. Gibran terkenal dengan puisi-puisi cintanya yang romantis. Namun kali ini kami mengutip puisi indahnya tentang ibu.

Ibu

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan

Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan
Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat
dan menjaganya tanpa henti

Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk Ibu
Matahari ada lah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannyadengan
pancaran panasnya

Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari
meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-
burung dan anak-anak sungai

Dan bumi adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bungan menjadi ibu yang baik
bagi buah-buahan dan biji-bijian
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal, penuh
dengan keindahan dan cinta

Khalil Gibran meninggal pada 10 April 1931 di kota New York. Kala itu beliau masih berusia 48 tahun.

5. Bulan untuk Ibu oleh Raudal Tanjung Banua

Raudal-Tanjung-Banua
Raudal-Tanjung-Banua

Raudal Tanjung Banua lahir di Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat 19 Januari 1975. Beliau adalah sastrawan Indonesia yang banyak menulis puisi dan cerita pendek. Beliau kini tinggal di Jogja untuk mengurus komunitas dan penerbit sastra. Berikut puisi Raudal tentang Ibu.

Bulan untuk Ibu

Ibu, di tubuhmu yang tabu untuk kusentuh
Kulabuhkan ingatan keparat dan menyesakkan
demi sebait puisi yang menjadikan engkau bulan

Akan bangkit gairah yang runtuh
Meski ajal dan kepulangan terlanjur sudah dijanjikan

Tungku-tungku telah dinyalakan
Kutu-kutu telah ditindas
dari rambut. Sagu-sagu telah di tebang
dari lahan gambut. Susu-susu sudah di peras
dari setiap daging yang tumbuh
Padi-padi telah ditumbuk
dari lumbung dan lesung

Lalu, apalagikah yang belum genap
dari tubuhmu, Ibu ?

Di tubuhmu bersarang seluruh
rangrang dan burung-burung
luruh sayap. Pisau tak bersarung
Alu yang berderap. Pun sepatu dan debu
Bumbu-bumbu dan warung kopi
penuh cakap
tapi tidak tentang kepulangan ! Biarlah, Ibu,
kepulangan menjadi milikku seseorang,
milik ajal dan gairah tak tertahankan

Agar bangkeit segala yang runtuh,
Hingga tubuhmu tak lagi tabu aku sentuh
dengan tangan panjang kenanganku

Begitulah Ibu, tuubuhmu menjelma jadi sepotong labu
dalam arus pikiranku
hijau, telanjang, berlumut, terapung hanyut
ke laut pengembara

Maka di ujung puisi ini, sebelum turun hujan
Kujadikan engkau bulan.

Demikianlah lima puisi indah dari sastrawan-sastrawan ternama tentang Ibu. Semoga kita bisa menyayangi ibu-ibu kita seindah, atau bahkan lebih indah, dari puisi-puisi tersebut. Selamat Hari Ibu! (HLH)

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA